Chapter 15 : KALA: Semacam Review (Spoiler Alert! Bagi yang belum nonton, jangan coba2 membaca review ini! Daripada anda menyesal…)

April 27th, 2007 by kata-tommy

Ketika pertama kali melihat trailer film ini sekitar akhir Maret lalu, hal yang terlintas di pikiran saya pertama kali adalah : “Ini film noir??”. Pertanyaan itu pun terjawab ketika saya menonton Showbizz News mewawancarai Joko Anwar, sang sutradara, “Film ini adalah film noir…. “.

Apa itu Noir? Noir adalah sebuah istilah yang muncul dari sebuah gerakan ekspresionisme Jerman yang dimotori oleh Fritz Lang dan digunakan dalam genre crime yang berfokus pada seks dan korupsi. Berikut ini ciri2 khas film noir:
Karakternya melakukan kejahatan yang brutal karena dendam
Cerita dikisahkan dari sudut pandang penjahat bahkan flashback
Tema seksualitas dan psikologis yang dijalin dengan apik
Pencahayaan yang low-key (moody) serta mengesankan keputusasaan karakternya. (dikutip dari majalah Cinemags, edisi Mei 2007)
Ini adalah sesuatu yang baru dalam perfilman Indonesia, sejauh yang saya tahu. Mau tak mau saya menjadi penasaran bagaimana keseluruhan film ini jadinya. Rasa penasaran itu pun terjawab tadi malam, ketika pada akhirnya saya berkesempatan menyaksikan film ini. Begitu credit title muncul, kepuasan dan ketidakpuasan bercampur menjadi satu. Berbagai macam pertanyaan muncul silih berganti di benak saya. Tak ada keraguan bahwa film ini merupakan wujud kemajuan film Indonesia dalam segi art, sound, dan sinematografi. Tapi, tetap saja ada beberapa hal menarik yang dapat dijabarkan dari film ini, terlepas anda setuju atau tidak. Mari kita kupas scene per scene dari film ini.

Sebelum kita memulainya, perlu saya ingatkan bahwa opini2 dalam tulisan ini bukan semata-mata murni hasil pemikiran saya sendiri, tapi sudah melalui proses diskusi yang melibatkan beberapa orang, yaitu Damar, De Vano, Edvan, Abe, Rangga, dan saya sendiri. Berikut ini adalah rangkuman hasil diskusi tersebut :

1.Adegan Tabrakan di Awal Film
Kami semua sepakat bahwa adegan wanita hamil tertabrak di awal film adalah adegan yang dahsyat. Saya pun sudah menduga bahwa wanita itu akan mati tertabrak saat itu. Khas sinetron Indonesia lah. Mungkin untuk menyindir tingginya tingkat kecelakaan kendaraan bermotor di negeri ini. Saya tidak mempermasalahkan hal tersebut, saya hanya penasaran bagaimana adegan tabrakan itu divisualisasikan, mengingat atmosfer ketegangan yang sudah dibangun dari awal. Adegan itu pun dimulai: Sang wanita berjalan gontai menuju tengah jalan raya, dan sebuah mobil melaju kencang menabrak dirinya dengan keras. Braaaakkk!!! Saya tersenyum sendiri kita melihat tubuh sang wanita berputar begitu kerasnya melewati atap mobil dan terjatuh di jalan raya. “CGInya kasar banget”, pikir saya. Tapi, tiba2 sebuah bis datang dengan kencangnya dan melindas tubuh wanita itu. Serta merta saya berteriak, “Anjing!!”. Gila! Adegan itu nyata banget!! Salut pada tim special effect (kalo bisa disebut begitu) yang mewujudkan adegan itu. Adegan itu benar2 efektif untuk menaikkan tensi di awal film. Salut!!

2.Gedung-gedung Tua yang Dibiarkan Apa Adanya
Teman saya, Damar, menyampaikan ide yang menarik mengenai “Mengapa gedung2 tua yang dipake dibiarkan apa adanya? Tidak diperbaiki sedikit agar tampak lebih enak dilihat?”. Menurut Damar, gedung2 itu, dengan keadaan yang apa adanya, memperlihatkan bahwa tampak dari luar, tidak ada yang bakal menyangka bahwa ada kegitan di dalam gedung itu. Gedung pengadilan, rumah sakit, kantor polisi, semuanya tidak menunjukkan keadaan yang seharusnya, dimana keadilan ditegakkan, orang sakit diobati, dan kejahatan diungkap. Hal itu untuk menunjukkan kebobrokan negara antah-berantah yang dijadikan setting film KALA ini. Bisa diterima. Kalau menurut anda??

3.Narkolepsia Janus dan Terekamnya Lokasi Harta di Tape Recorder Janus
Salah satu teman saya di Surabaya, Ratu, berpendapat, “Narkolepsia Janus tuh nggak penting.” Saya punya pendapat lain. Memang pada awalnya saya juga bertanya-tanya, “Mengapa Sang Penidur harus benar2 diperlihatkan sebagai orang yang punya penyakit tidur? Bukannya malah menjadi terlalu gamblang?” Namun pada akhirnya saya menyadari bahwa itu semua menyangkut takdir. Narkolepsia adalah penyakit langka yang jarang diidap orang. Jalan takdirlah yang menentukan bahwa Janus lah yang harus menanggung beban itu. Dan Narkolepsia itulah jalannya. Hal yang sama juga berlaku pada mengapa suara wanita hamil itu terekam secara kebetulan pada tape recorder Janus. Sekali lagi itu kembali kepada takdir yang memang menuntun Janus, sang penjaga rahasia, agar mengetahui lokasi harta tersebut, walaupun dengan cara tidak terduga.

4.Tape Recorder dan Rokok Berfilter Pada Setting era 40-50an?
Sejak awal pelncuran film ini, Joko Anwar suah mewanti-wanti bahwa setting dunia yang ia pakai adalah dunia antah berantah yang tidak mengacu pada negara tertentu atau masa tertentu, walaupun kita semua sadar bahwa yang ia maksud adalah negara kita tercinta, Indonesia. Karena itu, janganlah dipusingkan dengan penggunaan tape recorder dan rokok berfilter yang jelas2 bertabrakan dengan setting masa lalunya, karena ini emang cuma negara antah-berantah!

5.Ratu Adil adalah seorang Gay?
Mungkin ini adalah kejutan terbesar dalam KALA dibanding Ranti yang ternyata seorang Pelindung! Bagaimana tidak? Figur seorang Ratu Adil yang begitu sempurna dan dinanti-nanti ternyata penyuka sejenis. Bisa jadi ini adalah ego seorang Joko Anwar. Tapi teman-teman saya punya beberapa argumen yang menarik. Ada yang berpendapat bahwa itu sebagai penggambaran seorang Ratu Adil yang terperangkap dalam tubuh seorang pria. Hmmm, mungkin bisa diterima, seandainya saja kita semua tidak tahu bahwa Ratu adalah gelar bagi seorang pria! Hah! 

Teman saya Vano berpendapat lain. Menurut dia, tidak masalah bahwa Ratu Adil seorang pria, karena Ratu memang gelar Raja Jawa. Ia lebih menyoroti perilaku seksual Raja-raja tersebut. Siapa yang tahu bahwa Raja-raja Jawa kuno dahulu berhubungan seks dengan sejenisnya?? Bahkan menurut dia, dalam epos hindu Mahabarata, Arjuna yang menikahi Srikandi, yang notabene seorang pria yang bereinkarnasi menjadi wanita, adalah sebuah bentuk penggambaran perilaku seks yang heterogen. Anda setuju? Saya sendiri tidak berani untuk mengiyakannya.

Saya mungkin lebih condong kepada pendapat Damar yang mengatakan bahwa itu untuk menggambarkan bahwa Ratu Adil adalah orang yang datang dari golongan orang yang tidak disangka-sangka. Ini lebih make sense bagi saya. Ratu Adil bukanlah sosok yang harus kita tunggu, tetapi harus kita persiapkan kemunculannya dari sekarang.

6.Kemunculan Pindoro
Banyak yang tertipu ketika pertama kali melihat sosok yang diperankan oleh Jose Rizal Manua ini. Orang-orang berpikir bahwa ini adalah film horor, dan Pindoro adalah hantunya. Tapi, pada akhir film, ternyata Pindoro adalah seorang penyampai pesan yang menyatukan tiga orang tokoh utamanya. Lalu buat apa dia muncul untuk menakut-nakuti? Apakah atas nama seni?

Saya mencoba memberikan sebuah alternatif lain. Ketika melihat sosok Pindoro pertama kalinya, saya teringat pada sosok Raja Kera Hanuman dari epos Ramayana. Hanuman dalam epos itu bertindak sebagai pelindung dari tiga tokoh utamanya, yaitu Sri Rama, Dewi Shinta, dan Laksmana. Persis seperti Pindoro yang pada akhirnya menjadi pelindung bagi Eros, Janus, dan Ranti. Ini menunjukkan bahwa KALA sangat terinspirasi dari epos tersebut.

Lalu timbul pertanyaan, mengapa pada akhirnya yang bertindak sebagai sang Pelindung adalah Ranti, yang seharusnya merujuk pada tokoh Laksmana yang seorang pria tulen? Karena itulah saya mengatakan bahwa KALA hanya terinspirasi, bukan menjiplak epos itu. Apalagi ditambah oleh adegan dimana Janus diselamatkan dari kobaran api, yang mengingatkan kita pada kisah penyelamatan Dewi Shinta oleh Hanuman yang kemudian membakar Alengka.

Saya dan Damar pun bersepakat bahwa kemunculan Pindoro bukanlah untuk menakut-nakuti, tapi lebih kepada wujud pengabdian total kepada tugasnya sebagai pelindung lokasi harta itu.

7.Sosok Ratu Adil
Sejak melihat trailer film ini pertama kalinya, saya sudah tergelitik dengan penyebutan Ratu Adil dalam salah satu tagline-nya. Saya langsung berpikir bahwa ini adalah salah satu film yang tidak akan memunculkan sosok Ratu Adil itu sendiri namun menyerahkannya kepada penonton sebagai bahan pemikiran. Karena Ratu Adil adalah sosok yang begitu sempurna.

Tapi saya salah. Pada ending film Ratu Adil benar2 dimunculkan melalui sosok Eros yang jauh dari kata sempurna itu. Apalagi sepanjang film tidak ada keistimewaan yang mengindikasikan bahwa dia adalah sang Ratu Adil selain dari cara pikir idealisnya yang sedikit naif. Pemunculannya membuat film ini terasa “melompat jauh” dari jalurnya. Terlalu mengawang-ngawang kalau menurut KOMPAS. Dan saya setuju.

8.Klimaks yang Menggelikan
Sepanjang saya menonton film ini, perasaan saya campur aduk antara tegang dan penasaran. Mata saya tidak bisa lepas dari tiap adegan yang disuguhkan dengan apik oleh Joko Anwar. Tapi, apa yang terjadi ketika film ini mencapai klimaksnya? Siluet Ranti yang berdiri di atas candi dengan menenteng pedang lengkap dengan rambutnya yang berkibar. Pedang Maha Dewa banged! Emangnya komik Tony Wong!
Senyum saya bertambah lebar ketika melihat Ranti mengayunkan pedang dengan canggungya, namun mampu menebas tubuh Frans Tumbuan jadi dua! Ampun Joko! Untung ceritanya cukup membuat saya memaafkan adegan itu. Mungkin waktu itu Joko sudah capek dengan tekanan dari produser dan menyetujui adegan yang sangat MD Entertainment itu. Hehehehe..

Selain adegan ending tersebut, tetap saja ada beberapa adegan yang agak janggal, seperti langit yang berubah-ubah pada saat adegan di pemakaman, kelelawar2 yang terbang melewati Janus (kalau anda jeli, ada kelelawar yang menembus badannya lho! Dan adegan itu Batman Begins banged!), dan ketidakmunculan Eros ketika bis yang bersimbah darah itu berhenti, padahal ia sedang menguntitnya.
Terlepas dari itu, yang mungkin lebih disebabkan masalh teknis, KALA adalah sebuah film yang sanggup membuat terobosan baru dalam kebangkitan film nasional (selain Opera Jawa tentunya). Kredit lebih saya berikan kepada semua departemen (sinematografi, art, sound, kostum, act) dalam film ini yang bekerja dengan maksimal. Akhir kata, salut buat Joko Anwar! Dan, apabila saya dipaksa memberikan nilai, 9 dari 10 adalah nilai yang pantas.

Chapter 14: Meltdown..

March 15th, 2007 by kata-tommy

Okay, di chapter sebelumnya saya sudah menyinggung beberapa momen yang menjadi proses tercapainya ketenangan batin yang saya peroleh akhir2 ini. Setelah mempertimbangkan dengan sangat seimbang, saya memberanikan diri menulisnya di blog ini.

Peristiwa yang pertama adalah peristiwa yang sebut sebagai “Meltdown Moment” saya. Terdengar mengerikan bukan? Membayangkannya terjadi pada seorang pria saja sudah cukup menakutkan apalagi mengalaminya langsung. Namun, seorang sahabat saya mengatakan bahwa itu bisa terjadi pada siapa saja. Itu sudah cukup membuat saya tenang.

Diawali di Sabtu pagi sekitar 2-3 minggu yang lalu. Saat itu di kampus saya diadakan sebuah bazar yang diikuti elemen kampus di kampus saya. Kebetulan UKM yang saya ikuti berpartisipasi pada acara tersebut. Sejak pagi hari saya mempersiapkan stand yang akan digunakan UKM saya. Sejauh ini semua baik2 saja. Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Tiba2 perasaan nggak enak itu muncul. Tiba2 mood saya drop. Saya merasa kebingungan. Di mana saya? Apa yang saya lakukan di tempat itu?

Saya mencoba menenangkan diri dengan mendengarkan musik dari MP3 saya. Tapi nggak berhasil. Saya meninggalkan stand UKM saya dengan kebingungan. Satu2nya hal yang saya pikirkan adalah menyingkir dari orang2 di sana. Saya pun berjalan dengan cepat menuju kontrakan saya. Di tengah perjalanan tiba2 hujan turun dengan derasnya. Dan terjadilah hal yang paling tidak saya inginkan: Saya menangis. Di tengah2 guyuran hujan itu. Pathetic huh? Saya benar2 menyedihkan. Orang2 melihat saya dengan heran. Tapi saya tidak perduli. Saya mempercepat langkah menuju rumah.

Sampai di rumah, saya langsung berbaring di tempat tidur tanpa mengeringkan diri. Sekitar satu jam saya tertidur, tiba2 saya dibangunkan oleh suara adzan magrib. Saya langsung beristigfar sebanyak2nya. Hari itu benar2 hari terburuk saya dalam beberpa bulan ini. Beberapa tahun ini malah. Mood saya berada dalam titik terendah, dan itu benar2 menyedihkan. Saat saya merasa itu sudah berakhir, ternyata itu baru awal dari kejadian yang menimpa saya berikutnya.

Chapter 13: I’m so bored..no, boring!

February 20th, 2007 by kata-tommy

Ahhh!!! Seminggu menjelang ujian!!! Deg-degan? Pasti.. Takut? nggak juga. Cenderung relax malah. Apa karena pengalaman? Atau kecongkakkan? Entahlah. Yang pasti time is running out, dan saya belum (mencoba) belajar sedikit pun. (dengan fakta seperti itu saya cenderung relax?! Itu namanya congkak!)

Tapi, aneh juga. Akhir-akhir ini saya merasa sedikit "tenang". Dalam artian baik tentunya. Nggak gampang marah, nggak gampang nyolot. Apalagi setelah peristiwa "meltdown" yang menyesakkan itu (mungkin lain kali akan saya ceritakan), minggatnya saya ke "dunia paralel" selama 15 jam (saya juga belum menceritakan yang satu ini ya??), dan peristiwa forum yang penuh air mata itu (seharusnya dengan bahan cerita sebanyak ini, saya lebih sering menulis blog. huh!).

Yang saya rasakan adalah bagaimana saya mencoba memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain. Memahami orang lain dengan memposisikan diri saya sebagai orang lain. Terdengar bullshit huh? Mungkin. Tapi dengan melakukan hal tersebut, saya mencapai ketenangan batin yang "menyejukkan". Sound cheesy huh? Nevermind. Mungkin anda sendiri harus mencobanya.

Menyebalkan. Seharusnya saya tidak menulis hal se-membosankan ini…

saya mohon maaf pada para pembaca semua..

regards,

tomsky!

Chapter 12: The Holiday Series-Super Friday!

December 24th, 2006 by kata-tommy

Hari Jum’at kemarin, saya berjanji akan berdiam rumah seharian dan beristirahat (secara hari sebelumnya saya pulang pagi). Rencana ini hampir berhasil, sampai saya menerima sebuah sms dari bung Hendro yang berbunyi:

“Futsal. Jam 3 di Kenjeran. Dateng ya!”

Dalam hati: “Dateng nggak ya? Hmm, dateng ah, secara waktu di Jakarta nggak pernah dateng”

Akhirnya saya memutuskan datang, walaupun saya agak ragu dengan stamina saya (secara udah lama nggak main bola). Jam 3 saya meluncur menuju kenjeran yang, ampyuunn, jauh beut! Sesampainya di sana saya dan teman saya Ipoel dihadang oleh ibu penjaga tiket masuk yang rese’.

Ibu tiket (IT): 5 ribu!

Ipoel (I): Hah?! Mahal bener! Biasanya juga kalo maen bola nggak bayar!

IT: 5 ribu!!

I: Bener nih bayar?!

IT: 5 ribu!!!

I: Nggak 3 ribu 5 ratus bu?

IT: 5 ribu!!!! Kalo nggak mau, minggat!!!

(dialog di atas sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dialog aslinya dilakukan dalam bahasa nasional Botswana yang sungguh sangat tidak enak didengar)

Ajaibnya, setelah saya membayar 5 ribu, dengan muka manyun Ibu itu memberi kembalian sebesar 2 ribu. Ternyata hatinya tak seburuk….ah sudahlah.

Setelah berhasil masuk, kami berdua langsung menuju lapangan futsal yang sudah dipenuhi anak Himasurya. Reaksi pertama yang saya sudah duga akan muncul adalah:

“Hah?! Dateng Tom? Tumben!”

Begitulah. Dan saya tidak peduli apa yang mereka katakan, karena saya datang untuk maen bola. Yeah!

Hasilnya: baru 15 menit, mata sudah berkunang-kunang, nafas ngos2an, keringat bercucuran dan saya mendarat dengan mulusnya di pinggir lapangan!

Kelar futsal, hanya satu kata yang terngiang di kepala: TIDUR. Namun apa daya, setelah mandi dan bersiap tidur, kakak perempuan saya mengajak untuk mencoba salah satu restoran bebek di kawasan Bratang. Tak kuasa menolak, saya pun mengantar dia ke sana (walau dengan badan yang capek).

Kelar makan bebek, sebenarnya capek udah sedikit terobati, namun saya sudah bertekad untuk tidur sampe besok pagi. Tapi, kehendak Yang Kuasa berkata lain. Sebuah telfon dari teman saya Alieph membuyarkan kantuk saya

Alieph (A): Woi! Mau ditraktir Dalu! Gmn? Ikutan?

T: Udah malem fren! Trus gw nggak ada kendaraan!

A: Disamperin! Nyantai aja!

Dan, begitulah, akhirnya hari saya berakhir di resto McDonald di salah satu Plaza di Surabaya. Rencana beristirahat total malah berakhir dengan saya pulang pagi untuk dua hari berturut-turut.

Sebenarnya, penting nggak sih cerita di atas. Siapa yang peduli gitu?! Tapi, bukannya blog diciptakan buat itu. Untuk menampung orang2 yang butuh perhatian seperti saya! Hehe…

Regards

tomsky

Chapter 11: The Holiday Series-Pemenuhan Hasrat Nyolot!

December 23rd, 2006 by kata-tommy

Saya sebenarnya hanya ingin mereview sedikit mengenai
band2 yang tampil di FISIP FAIR yang saya tonton pada malam jum’at kemarin.
Entah kenapa saya begitu tergelitik untuk mengomentari band2 yang tampil. Apa
karena buruknya penampilan? Mungkin. Tapi, tidak semua buruk koq. Inilah
pengamatan saya:

1. Band nggak tau namanya: band pembawa lagu-lagu top 40.
Dari Steven & The Coconut Trees sampai Jablai-nya Titi Kamal. Tak ada yang
istimewa. Standar band top 40 lainnya. Seharusnya mereka bisa lebih atraktif,
mengingat pilihan lagunya tidak terlalu menarik.

2. Safe Band (kalo nggak salah): waktu mereka sedang
membawakan lagu milik J-Rock, gitarisnyatampak gregetan karena penonton FISIP
yang hanya duduk menonton dengan diam. Padahal penonton sudah gregetan menunggu
mereka turun (atau cuma saya saja yang merasa begitu?). Penampilan mereka
sedikit membaik ketika membawakan Plug-In Baby-nya Muse. Namun, jatuh ke dalam
anti-klimaks ketika suara vokalisnya tercekik dalam usahanya meniru jeritan
Gerard Way dalam Welcome to The Black Parade-nya MCR. Ampun DJ!

3. Lovely Tea: yang ini lumayan manis untuk dinikmati.
Dengan gaya bermusik yang lebih mendekati LaLuna daripada Mocca, lagu-lagu
ciptaan mereka terdengar manis dan menyenangkan. Semanis paras vokalisnya.

4. Guantanamo: terdengar menjanjikan dengan metal tensi
tinggi mereka. Namun, ketika mendengar lirik bodoh mereka tentang sebuah warung
di jalan Pandan (jangan samakan dengan Sayidan-nya Shaggy Dog yang jauh lebih
bagus) tak ada yang dapat dilakukan selain menutup telinga rapat2!

5. Titik Koma: kalo yang ini top abies! Musik mereka
terdengar lebih padat dan “berisi” dibanding Guantanamo. Sayang mereka tidak
dapat jatah lagu lebih banyak…

6. Om Verdana: waktu melihat personilnya yang tampak paruh
baya, saya sudah punya firasat buruk. Namun, ketika 4 vokalis mereka yang norak
muncul (salah satunya dalah cowok yang menggunakan jaket dan celana kulit merah
dengan rambut pirang. Ancol!), firasat saya terbukti. Ini band dangdut! Yang
ini nggak bisa ditawar lagi. Langkah pertama yang saya ambil: segera pulang dan
tidur! Bah!

Nggak bermaksud menyerang siapa2. Cuma mengungkapkan isi
hati yang sebenarnya. Maaf2 aja kalo ada yang tersinggung (itu pun kalo kalian
baca ni blog!). Buat panitia FISIP Fair, mbok lain kali band pengisinya disusun
dengan baik. Dengan sponsor salah satu merk rokok besar, koq acaranya jadi
terasa hambar n sia2. Itu aja.

Regards

tomsky

Chapter 10: Surabaya, Aku datang! (libur hari pertama)

December 21st, 2006 by kata-tommy

Akhirnya tiba juga di kota laknat ini. Begitu turun dari kereta, yang telat sekitar 3 jam dari jadwal, langsung disambut udara panas khas kota ini dan supir2 taksi yang berebut mencari penumpang dengan kasarnya. I hate this city. Tapi, di lain  pihak, lebih banyak sukanya sih.

Apa yang membuat saya selalu kembali ke kota ini? (secara saya adalah orang Mataram). Pertama, tentu saja karena sebuah organisasi daerah di STAN yang bernama Himasurya. Sudah lebh dari setahun saya menjadi anggota organisasi elit ini, dan mereka selalu berhasil "memaksa" saya untuk kembali ke sini. Kali ini yang jadi alasan adalah try out. Seperti tahun lalu, kami mengadakan try out lagi untuk anak2 SMA se-Surabaya. Dan, tampaknya tahun ini kami harus bekerja lebih keras dari tahun lalu karena banyaknya sekolah yang belum mengetahui acara kami. Karena mempertimbangkan hal itu, mau tak mau (secara saya pengurus), saya kembali ke kota ini.

Ah, kembali ke cerita awal mengenai kedatangan saya di Surabaya, yang saya rasakan ketika pertama kali datang adalah kelelahan yang luar biasa. Maklum, seharinya sebelumnya saya masih ujian Manajemen Keuangan, yang sayangnya mengalami gagal total. Saya ingin cepat2 sampai rumah dan beristirahat. Begitu tiba di rumah om saya, saya bersiap-siap buat mandi. Tapi, ada yang terasa janggal ketika saya melihat dua tas yang saya bawa dari Jakarta. Kemana tripod yang saya bawa dari Jakarta? Oh my god! Masih di kereta!

Seketika itu juga hilang semua rasa lelah. Cepat2 saya menghubungi teman saya yang bernama Hendro, yang kiranya masih ada di stasiun.

Tommy (T): Halo, assalamualaikum.

Hendro (H): Waalaikumsalam. Ada apa pak tommy?

T: Bagaimana kabarnya pak hendro?

H: Alhamdulillah. Baik2 saja. Anda gimana?

T: Baik. Anda sudah di surabaya?

H: Ow, sudah. Saya naik kereta gumarang. Pagi ini baru sampai.

T: Oh ya! Sama dengan saya dong?! Anda duduk dimana?

H: Di gerbong 3. seat 5c.

T: Hah?!! Saya kan 5d. Berarti anda di sebelah saya?! Jadi yang tadi itu anda?!!

H: Iya. hehehe

T:???!!!!!

(beginilah. Saya memang dianugerahi selera humor yang amat sangat mengenaskan)

Okay. Kembali ke cerita sebenarnya. Setelah saya menelfon hendro, dia ternyata sudah dalam angkot yang menuju rumahnya. Kemudian dia menyarankan saya untuk segera kembali ke stasiun untuk mencari tripod tersebut (nggak perlu dikasih tau saya juga bakal ke sana!). Setelah berterima kasih atas nasehat bung Hendro yang nggak penting itu, saya pun bergegas kembali ke stasiun. Singkat cerita, setelah diping-pong oleh petugas brengsek yang sepertinya tidak tahu dimana saya harus mengurus kehilangan barang, akhirnya saya tiba di pos keamanan yang sangat, um, gelap. Gelap, kotor dan sumpek tepatnya. Saya tidak bisa membayangkan ada manusia normal yang mau bekerja di situ. Tapi, bertolak belakang dengan kantornya, petugasnya ternyata cukup ramah. Dan mereka berusaha membantu, paling tidak terlihat seperti itu. Dan saya menghargai itu (walaupun mereka gagal menemukan tripod saya).

Setelah meninggalkan nomor untuk dihubungi apabila tripod saya ketemu, kereta ekonomi Kertajaya dari Jakarta datang. Sekelompok anak Himasurya keluar dan menghampiri saya

Lenox (L): Tom, Angga ama Priyo ke gumarang, nyari tripodmu.

T: Hah?! Koq tau?!

L: Ada deh! Hyuukkk..

Beberapa saat kemudian Angga muncul dengan membawa tripod saya di tangannya (diikuti efek sinar dan merpati berterbangan di belakangnya).

T: Angga my fren! (tereak sambil lari buat meluk angga)

Angga (A): J****k. Goblok! Ngapain loe ninggal tripod di kereta?!

T: Iye, gw emang goblok. Btw, Thanx fren! Tau darai mana?

A: Hendro yang sms

Wow! Saya langsung merasa bersalah pada bung Hendro karena di paragraf sebelumnya saya mengatakan nasehatnya tidak penting. Ternyata…

Yah, begitulah akhirnya saya pulang ke rumah dengan perasaan lega. Maaf kalau saat ini saya belum bisa menampilkan efek CGI untuk membuat efek yang lebih realistis. Mungkin next time kali yee..

regards

Tomsky      

Chapter 9: I’m Back!

December 21st, 2006 by kata-tommy

Yup! The series.. balik lagi. Yang di blogspot sepi pengunjung soalnya. Skalian aja dipindah ke sini. Nothing special, cuma mau ngumumin blog baru aja. Hyuukkk!!!