Archive for April, 2007

Chapter 15 : KALA: Semacam Review (Spoiler Alert! Bagi yang belum nonton, jangan coba2 membaca review ini! Daripada anda menyesal…)

Friday, April 27th, 2007

Ketika pertama kali melihat trailer film ini sekitar akhir Maret lalu, hal yang terlintas di pikiran saya pertama kali adalah : “Ini film noir??”. Pertanyaan itu pun terjawab ketika saya menonton Showbizz News mewawancarai Joko Anwar, sang sutradara, “Film ini adalah film noir…. “.

Apa itu Noir? Noir adalah sebuah istilah yang muncul dari sebuah gerakan ekspresionisme Jerman yang dimotori oleh Fritz Lang dan digunakan dalam genre crime yang berfokus pada seks dan korupsi. Berikut ini ciri2 khas film noir:
Karakternya melakukan kejahatan yang brutal karena dendam
Cerita dikisahkan dari sudut pandang penjahat bahkan flashback
Tema seksualitas dan psikologis yang dijalin dengan apik
Pencahayaan yang low-key (moody) serta mengesankan keputusasaan karakternya. (dikutip dari majalah Cinemags, edisi Mei 2007)
Ini adalah sesuatu yang baru dalam perfilman Indonesia, sejauh yang saya tahu. Mau tak mau saya menjadi penasaran bagaimana keseluruhan film ini jadinya. Rasa penasaran itu pun terjawab tadi malam, ketika pada akhirnya saya berkesempatan menyaksikan film ini. Begitu credit title muncul, kepuasan dan ketidakpuasan bercampur menjadi satu. Berbagai macam pertanyaan muncul silih berganti di benak saya. Tak ada keraguan bahwa film ini merupakan wujud kemajuan film Indonesia dalam segi art, sound, dan sinematografi. Tapi, tetap saja ada beberapa hal menarik yang dapat dijabarkan dari film ini, terlepas anda setuju atau tidak. Mari kita kupas scene per scene dari film ini.

Sebelum kita memulainya, perlu saya ingatkan bahwa opini2 dalam tulisan ini bukan semata-mata murni hasil pemikiran saya sendiri, tapi sudah melalui proses diskusi yang melibatkan beberapa orang, yaitu Damar, De Vano, Edvan, Abe, Rangga, dan saya sendiri. Berikut ini adalah rangkuman hasil diskusi tersebut :

1.Adegan Tabrakan di Awal Film
Kami semua sepakat bahwa adegan wanita hamil tertabrak di awal film adalah adegan yang dahsyat. Saya pun sudah menduga bahwa wanita itu akan mati tertabrak saat itu. Khas sinetron Indonesia lah. Mungkin untuk menyindir tingginya tingkat kecelakaan kendaraan bermotor di negeri ini. Saya tidak mempermasalahkan hal tersebut, saya hanya penasaran bagaimana adegan tabrakan itu divisualisasikan, mengingat atmosfer ketegangan yang sudah dibangun dari awal. Adegan itu pun dimulai: Sang wanita berjalan gontai menuju tengah jalan raya, dan sebuah mobil melaju kencang menabrak dirinya dengan keras. Braaaakkk!!! Saya tersenyum sendiri kita melihat tubuh sang wanita berputar begitu kerasnya melewati atap mobil dan terjatuh di jalan raya. “CGInya kasar banget”, pikir saya. Tapi, tiba2 sebuah bis datang dengan kencangnya dan melindas tubuh wanita itu. Serta merta saya berteriak, “Anjing!!”. Gila! Adegan itu nyata banget!! Salut pada tim special effect (kalo bisa disebut begitu) yang mewujudkan adegan itu. Adegan itu benar2 efektif untuk menaikkan tensi di awal film. Salut!!

2.Gedung-gedung Tua yang Dibiarkan Apa Adanya
Teman saya, Damar, menyampaikan ide yang menarik mengenai “Mengapa gedung2 tua yang dipake dibiarkan apa adanya? Tidak diperbaiki sedikit agar tampak lebih enak dilihat?”. Menurut Damar, gedung2 itu, dengan keadaan yang apa adanya, memperlihatkan bahwa tampak dari luar, tidak ada yang bakal menyangka bahwa ada kegitan di dalam gedung itu. Gedung pengadilan, rumah sakit, kantor polisi, semuanya tidak menunjukkan keadaan yang seharusnya, dimana keadilan ditegakkan, orang sakit diobati, dan kejahatan diungkap. Hal itu untuk menunjukkan kebobrokan negara antah-berantah yang dijadikan setting film KALA ini. Bisa diterima. Kalau menurut anda??

3.Narkolepsia Janus dan Terekamnya Lokasi Harta di Tape Recorder Janus
Salah satu teman saya di Surabaya, Ratu, berpendapat, “Narkolepsia Janus tuh nggak penting.” Saya punya pendapat lain. Memang pada awalnya saya juga bertanya-tanya, “Mengapa Sang Penidur harus benar2 diperlihatkan sebagai orang yang punya penyakit tidur? Bukannya malah menjadi terlalu gamblang?” Namun pada akhirnya saya menyadari bahwa itu semua menyangkut takdir. Narkolepsia adalah penyakit langka yang jarang diidap orang. Jalan takdirlah yang menentukan bahwa Janus lah yang harus menanggung beban itu. Dan Narkolepsia itulah jalannya. Hal yang sama juga berlaku pada mengapa suara wanita hamil itu terekam secara kebetulan pada tape recorder Janus. Sekali lagi itu kembali kepada takdir yang memang menuntun Janus, sang penjaga rahasia, agar mengetahui lokasi harta tersebut, walaupun dengan cara tidak terduga.

4.Tape Recorder dan Rokok Berfilter Pada Setting era 40-50an?
Sejak awal pelncuran film ini, Joko Anwar suah mewanti-wanti bahwa setting dunia yang ia pakai adalah dunia antah berantah yang tidak mengacu pada negara tertentu atau masa tertentu, walaupun kita semua sadar bahwa yang ia maksud adalah negara kita tercinta, Indonesia. Karena itu, janganlah dipusingkan dengan penggunaan tape recorder dan rokok berfilter yang jelas2 bertabrakan dengan setting masa lalunya, karena ini emang cuma negara antah-berantah!

5.Ratu Adil adalah seorang Gay?
Mungkin ini adalah kejutan terbesar dalam KALA dibanding Ranti yang ternyata seorang Pelindung! Bagaimana tidak? Figur seorang Ratu Adil yang begitu sempurna dan dinanti-nanti ternyata penyuka sejenis. Bisa jadi ini adalah ego seorang Joko Anwar. Tapi teman-teman saya punya beberapa argumen yang menarik. Ada yang berpendapat bahwa itu sebagai penggambaran seorang Ratu Adil yang terperangkap dalam tubuh seorang pria. Hmmm, mungkin bisa diterima, seandainya saja kita semua tidak tahu bahwa Ratu adalah gelar bagi seorang pria! Hah! 

Teman saya Vano berpendapat lain. Menurut dia, tidak masalah bahwa Ratu Adil seorang pria, karena Ratu memang gelar Raja Jawa. Ia lebih menyoroti perilaku seksual Raja-raja tersebut. Siapa yang tahu bahwa Raja-raja Jawa kuno dahulu berhubungan seks dengan sejenisnya?? Bahkan menurut dia, dalam epos hindu Mahabarata, Arjuna yang menikahi Srikandi, yang notabene seorang pria yang bereinkarnasi menjadi wanita, adalah sebuah bentuk penggambaran perilaku seks yang heterogen. Anda setuju? Saya sendiri tidak berani untuk mengiyakannya.

Saya mungkin lebih condong kepada pendapat Damar yang mengatakan bahwa itu untuk menggambarkan bahwa Ratu Adil adalah orang yang datang dari golongan orang yang tidak disangka-sangka. Ini lebih make sense bagi saya. Ratu Adil bukanlah sosok yang harus kita tunggu, tetapi harus kita persiapkan kemunculannya dari sekarang.

6.Kemunculan Pindoro
Banyak yang tertipu ketika pertama kali melihat sosok yang diperankan oleh Jose Rizal Manua ini. Orang-orang berpikir bahwa ini adalah film horor, dan Pindoro adalah hantunya. Tapi, pada akhir film, ternyata Pindoro adalah seorang penyampai pesan yang menyatukan tiga orang tokoh utamanya. Lalu buat apa dia muncul untuk menakut-nakuti? Apakah atas nama seni?

Saya mencoba memberikan sebuah alternatif lain. Ketika melihat sosok Pindoro pertama kalinya, saya teringat pada sosok Raja Kera Hanuman dari epos Ramayana. Hanuman dalam epos itu bertindak sebagai pelindung dari tiga tokoh utamanya, yaitu Sri Rama, Dewi Shinta, dan Laksmana. Persis seperti Pindoro yang pada akhirnya menjadi pelindung bagi Eros, Janus, dan Ranti. Ini menunjukkan bahwa KALA sangat terinspirasi dari epos tersebut.

Lalu timbul pertanyaan, mengapa pada akhirnya yang bertindak sebagai sang Pelindung adalah Ranti, yang seharusnya merujuk pada tokoh Laksmana yang seorang pria tulen? Karena itulah saya mengatakan bahwa KALA hanya terinspirasi, bukan menjiplak epos itu. Apalagi ditambah oleh adegan dimana Janus diselamatkan dari kobaran api, yang mengingatkan kita pada kisah penyelamatan Dewi Shinta oleh Hanuman yang kemudian membakar Alengka.

Saya dan Damar pun bersepakat bahwa kemunculan Pindoro bukanlah untuk menakut-nakuti, tapi lebih kepada wujud pengabdian total kepada tugasnya sebagai pelindung lokasi harta itu.

7.Sosok Ratu Adil
Sejak melihat trailer film ini pertama kalinya, saya sudah tergelitik dengan penyebutan Ratu Adil dalam salah satu tagline-nya. Saya langsung berpikir bahwa ini adalah salah satu film yang tidak akan memunculkan sosok Ratu Adil itu sendiri namun menyerahkannya kepada penonton sebagai bahan pemikiran. Karena Ratu Adil adalah sosok yang begitu sempurna.

Tapi saya salah. Pada ending film Ratu Adil benar2 dimunculkan melalui sosok Eros yang jauh dari kata sempurna itu. Apalagi sepanjang film tidak ada keistimewaan yang mengindikasikan bahwa dia adalah sang Ratu Adil selain dari cara pikir idealisnya yang sedikit naif. Pemunculannya membuat film ini terasa “melompat jauh” dari jalurnya. Terlalu mengawang-ngawang kalau menurut KOMPAS. Dan saya setuju.

8.Klimaks yang Menggelikan
Sepanjang saya menonton film ini, perasaan saya campur aduk antara tegang dan penasaran. Mata saya tidak bisa lepas dari tiap adegan yang disuguhkan dengan apik oleh Joko Anwar. Tapi, apa yang terjadi ketika film ini mencapai klimaksnya? Siluet Ranti yang berdiri di atas candi dengan menenteng pedang lengkap dengan rambutnya yang berkibar. Pedang Maha Dewa banged! Emangnya komik Tony Wong!
Senyum saya bertambah lebar ketika melihat Ranti mengayunkan pedang dengan canggungya, namun mampu menebas tubuh Frans Tumbuan jadi dua! Ampun Joko! Untung ceritanya cukup membuat saya memaafkan adegan itu. Mungkin waktu itu Joko sudah capek dengan tekanan dari produser dan menyetujui adegan yang sangat MD Entertainment itu. Hehehehe..

Selain adegan ending tersebut, tetap saja ada beberapa adegan yang agak janggal, seperti langit yang berubah-ubah pada saat adegan di pemakaman, kelelawar2 yang terbang melewati Janus (kalau anda jeli, ada kelelawar yang menembus badannya lho! Dan adegan itu Batman Begins banged!), dan ketidakmunculan Eros ketika bis yang bersimbah darah itu berhenti, padahal ia sedang menguntitnya.
Terlepas dari itu, yang mungkin lebih disebabkan masalh teknis, KALA adalah sebuah film yang sanggup membuat terobosan baru dalam kebangkitan film nasional (selain Opera Jawa tentunya). Kredit lebih saya berikan kepada semua departemen (sinematografi, art, sound, kostum, act) dalam film ini yang bekerja dengan maksimal. Akhir kata, salut buat Joko Anwar! Dan, apabila saya dipaksa memberikan nilai, 9 dari 10 adalah nilai yang pantas.