Archive for March, 2007

Chapter 14: Meltdown..

Thursday, March 15th, 2007

Okay, di chapter sebelumnya saya sudah menyinggung beberapa momen yang menjadi proses tercapainya ketenangan batin yang saya peroleh akhir2 ini. Setelah mempertimbangkan dengan sangat seimbang, saya memberanikan diri menulisnya di blog ini.

Peristiwa yang pertama adalah peristiwa yang sebut sebagai “Meltdown Moment” saya. Terdengar mengerikan bukan? Membayangkannya terjadi pada seorang pria saja sudah cukup menakutkan apalagi mengalaminya langsung. Namun, seorang sahabat saya mengatakan bahwa itu bisa terjadi pada siapa saja. Itu sudah cukup membuat saya tenang.

Diawali di Sabtu pagi sekitar 2-3 minggu yang lalu. Saat itu di kampus saya diadakan sebuah bazar yang diikuti elemen kampus di kampus saya. Kebetulan UKM yang saya ikuti berpartisipasi pada acara tersebut. Sejak pagi hari saya mempersiapkan stand yang akan digunakan UKM saya. Sejauh ini semua baik2 saja. Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Tiba2 perasaan nggak enak itu muncul. Tiba2 mood saya drop. Saya merasa kebingungan. Di mana saya? Apa yang saya lakukan di tempat itu?

Saya mencoba menenangkan diri dengan mendengarkan musik dari MP3 saya. Tapi nggak berhasil. Saya meninggalkan stand UKM saya dengan kebingungan. Satu2nya hal yang saya pikirkan adalah menyingkir dari orang2 di sana. Saya pun berjalan dengan cepat menuju kontrakan saya. Di tengah perjalanan tiba2 hujan turun dengan derasnya. Dan terjadilah hal yang paling tidak saya inginkan: Saya menangis. Di tengah2 guyuran hujan itu. Pathetic huh? Saya benar2 menyedihkan. Orang2 melihat saya dengan heran. Tapi saya tidak perduli. Saya mempercepat langkah menuju rumah.

Sampai di rumah, saya langsung berbaring di tempat tidur tanpa mengeringkan diri. Sekitar satu jam saya tertidur, tiba2 saya dibangunkan oleh suara adzan magrib. Saya langsung beristigfar sebanyak2nya. Hari itu benar2 hari terburuk saya dalam beberpa bulan ini. Beberapa tahun ini malah. Mood saya berada dalam titik terendah, dan itu benar2 menyedihkan. Saat saya merasa itu sudah berakhir, ternyata itu baru awal dari kejadian yang menimpa saya berikutnya.